Sistem Penggemukan Sapi

Penggemukan sapi memang sudah menjadi salah satu jenis usaha peternakan yang tersebar luas di berbagai daerah. Hasil utamanya, tentu saja daging sapi yang akan dijual untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan protein hewani. Perbedaan kondisi fisik suatu wilayah, sumber pakan, serta permodalan mempengaruhi pilihan sistem penggemukan yang akan dilaksanakan. Pada artikel ini akan dibahas beberapa sistem penggemukan sapi beserta kelebihan dan kekurangannya. Sistem penggemukan sapi dapat dilakukan dengan pasture fattening, dry lot fattening, kombinasi keduanya, serta kereman.

1. Sistem pasture fattening

Pasture fattening adalah sistem penggemukan sapi di padang penggembalaan setiap hari. Dengan sistem pasture fattening ini, sapi hanya mendapatkan asupan pakan hijauan dari padang rumput dan tidak mendapatkan pakan tambahan berupa konsentrat.

Sumber gambar: http://bptupadangmengatas.com/wp-content/uploads/2014/02/Sapi-Grazing-700×400.jpg

Sistem pemeliharaan pasture fattening cocok dilakukan di daerah dengan padang rumput yang luas misalnya di daerah Indonesia timur. Di Pulau Timor, Nusa Tenggara Timur (NTT), sapi dibiarkan sepanjang hari di padang rumput. Beberapa peternak sapi bahkan mengumbar sapinya begitu saja di savana yang luas dan hanya dibatasi tembok batu karang yang disusun setinggi dada manusia dewasa untuk mencegah sapi mengembara terlalu jauh dan sebagai batas wilayah kepemilikan tanah.

Di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), di perkampungan Suku Sasak, ternak sapi milik warga dipelihara di area terbuka di antara pohon-pohon di pinggir kampong. Pepohonan itu dihubungkan dengan bambu atau kayu yang berffungsi sebagai pagar.

Kelebihan:

  • Biaya pembuatan kandang murah
  • Biaya pakan sangat murah bahkan dapat juga tidak membutuhkan biaya pakan
  • Sapi lebih sejahtera karena dapat mengekspresikan sifat alaminya

Kekurangan:

  • Kondisi sapi kurang dapat dikontrol
  • Penyakit dapat menular dengan cepat
  • Kemungkinan terjadinya luka atau cacat cukup besar (misalnya jatuh, bertarung dengan sapi lain, dll)
  • Penggemukan membutuhkan waktu yang cukup lama karena sapi banyak aktivitas sehingga kebutuhan energi dari pakan juga tinggi

 

2. Sistem dry lot fattening

Dry lot fattening adalah sistem penggemukan sapi dengan memperbanyak pemberian pakan konsentrat. Jumlah pemberian pakan hijauan hanya sedikit sehingga efisiensi penggunaan pakan lebih tinggi. Perbandingan pakan hijauan dan konsentrat sekitar 40 : 60 sampai 20 : 80. Perbandingan ini didasarkan pada bobot bahan kering (BK). Penggemukan dengan sistem dry lot fattening dilakukan di dalam kandang sehingga semua kebutuhan sapi harus disediakan oleh peternak.

Sumber gambar:http://www.centralstation.net.au/wp-content/uploads/2013/06/P1070005.jpg

Kelebihan:

  • Perkembangan sapi dapat dioptimalkan karena sapi tidak harus mengeluarkan tenaga lebih sehingga pakan yang diberikan dapat lebih banyak dikonversi menjadi daging
  • Kontrol terhadap ternak sapi lebih mudah dilakukan
  • Penerapan manajemen yang baik mudah dilakukan

Kekurangan:

  • Butuh biaya yang besar untuk membangun kandang
  • Biaya pakan tinggi
  • Rawan terkena gangguan seperti kembung/bloat karena pakan yang diberikan berupa konsentrat dan gangguan pada kaki karena sapi menjadi jarang bergerak.

 

3. Sistem kombinasi

Sistem kombinasi adalah sistem penggemukan sapi yang merupakan perpaduan dari sistem pasture fattening dan dry lot fattening. Pelaksanaan sistem ini adalah apabila hijauan berlimpah, sapi digembalakan di padang gembalaan dan tidak harus dikandangkan, sedangkan pada musim kemarau sapi dikandangkan dan diberi pakan sepenuhnya dari peternak. Pada siang hari sapi digembalakan, kemudian malam harinya dikandangkan dan diberi konsentrat.

Sumber gambar: http://agriculturedblog.files.wordpress.com/2012/03/front-pasture.jpg

Sapi yang awalnya dipelihara di padang gembalaan kemudian beberapa bulan sebelum dijual diberi pakan konsentrat penuh, hasilnya lebih baik daripada sapi yang dari awal masa penggemukan diberi hijauan dan konsentrat secara seimbang.

Sistem penggemukan dengan cara kombinasi ini membutuhkan waktu lebih lama daripada dry lot fattening, tetapi lebih cepat dibandingkan pasture fattening.

Kelebihan:

  • Dapat menghemat biaya pakan
  • Kondisi sapi cukup mudah dikontrol
  • Dapat meningkatkan kesehatan sapi karena sapi diberi kesempatan untuk beraktivitas
  • Sapi cukup dapat mengekspresikan sifat alaminya

Kekurangan:

  • Pertumbuhan sapi tidak secepat pada penggembalaan sistem dry lot fattening karena sapi membutuhkan energi yang cukup banyak yang berasal dari pakan
  • Sapi bisa saja membawa bibit penyakit dari padang gembalaan

 

4. Sistem Kereman

Penggemukan sapi dengan sistem kereman mirip dengan sistem dry lot fattening yaitu sapi dikandangkan dan diberi pakan dan konsentrat. Bedanya adalah sistem kereman lebih banyak dilakukan oleh peternak tradisional dan pemberian pakannya tergantung dengan kondisi alam. Bila musim hujan, sapi banyak diberi pakan hijauan, sedangkan pada musim kemarau/kering sapi lebih banyak diberi pakan konsentrat.

Sumber gambar: http://3.bp.blogspot.com/-IUSbWZ3aQVA/UCOQ-1XA42I/AAAAAAAAAQU/x3XOPp1P4OA/s1600/CIMG1122.JPG

Kelebihan:

  • Pembuatan kandang tidak membutuhkan biaya besar
  • Biaya pakan dapat diminimalkan
  • Kondisi sapi dapat dikontrol dengan mudah

Kekurangan:

  • Perkembangan tubuh sapi kurang optimal karena pemberian pakan yang berganti-ganti.

 

5. Sistem Integrasi sapi – sawit

Perkebunan kelapa sawit merupakan salah satu zona agroekologi yang sangat cocok untuk pemeliharaan ternak sapi. Pengembangan peternakan sapi di perkebunan kelapa sawit dapat diarahkan pada industri pembibitan sapi, penggemukan, serta industri pakan ternak dan by product kelapa sawit.

Sumber gambar: http://peternakan.kaltimprov.go.id/images/berita/15259533975572c6f1449b9.sapi_sawit_.jpg

Perkebunan kelapa sawit menghasilkan limbah dan produk samping (by product) berupa limbah pelepah daun kelapa sawit, bungkil inti sawit, lumpur sawit (sludge), serabut perasan buah sawit, tandan kosong, dan cangkang yang dapat dimanfaatkkan sebagai bahan pakan ternak ruminansia.

Pengelolaan dengan cara ini termasuk dalam Loe External Input Susteinable Agriculture (LEISA) yang sangat popular. Sistem terintegrasi ini dapat menciptakan sistem zero waste yang ramah lingkungan dan menguntungkan bagi perkebunan itu sendiri.


Sumber:

  • Tim Penulis Agriflo. 2012. Sapi: Dari Hulu ke Hilir dan Info Mancanegara. Jakarta: Agriflo (Penebar Swadaya Grup)
  • Sumber lain

Info Produk

Rumen Aider

RUMEN AIDER merupakan suplemen alami yang menyediakan natural vitamin, chelated mineral, asam amino, prebiotik, enzim, dan unsur-unsur penting lain yang diperlukan ternak pemakan rumput (sapi, kambing, domba, kuda, kelinci, dll) untuk pertumbuhan, produksi, reproduksi, serta pemeliharaan status kesehatan. Menggunakan sistem deliveri nutrisi (CAnDS: Chelate Activated Nutrient Delivery System) untuk meningkatkan penyerapan nutrisi sampai level seluler.

Manfaat

  • Mempercepat pertumbuhan ternak (meningkatkan Average Daily Gain / ADG)
  • Meningkatkan daya cerna dan efisiensi penggunaan pakan
  • Meningkatkan performa reproduksi ternak jantan dan betina
  • Meningkatkan daya tahan terhadap penyakit dan stress lingkungan
  • Meningkatkan kualitas dan kuantitas hasil produksi

Katalog produk peternakan dan info selengkapnya klik link berikut RUMEN AIDER – Suplemen Ternak Pemakan Rumput

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *