Ternak Ikan Lele (1): Pengenalan Ikan Lele

Pendahuluan

Ikan lele atau dalam bahasa Inggrisnya catfish adalah salah satu ikan air tawar yang paling populer dikalangan masyarakat. Selain karena berbagai menu masakan lezat yang dihasilkan dari ikan lele, harga yang terjangkau, kemudahan dalam pembudidayaannya, serta sudah populernya ikan lele, menjadikan ikan ini menjadi komoditas andalan bagi para peternak atau pembudidaya ikan lele.

Ikan lele memiliki banyak nama daerah seperti ikan kalang (Sumatera Barat), ikan maut (Gayo dan Aceh), ikan sibakut (Karo), ikan pintet (Kalimantan Selatan), ikan keling (Makassar), ikan cepi (Sulawesi Selatan), ikan lele atau lindi (Jawa Tengah) atau ikan keli (Malaysia), ikan ‘keli’ untuk lele yang tidak berpatil sedangkan disebut ‘penang’ untuk yang memiliki patil (Kalimantan Timur). Di negara lain dikenal dengan nama mali (Afrika), plamond (Thailand), gura magura (Srilangka), dan 鲇形目 (Tiongkok). Dalam bahasa Inggris disebut pula catfishsiluroidmudfish danwalking catfish.

Nama ilmiahnya, Clarias, berasal dari bahasa Yunani chlaros, yang berarti ‘lincah’, ‘kuat’, merujuk pada kemampuannya untuk tetap hidup dan bergerak di luar air. Klasifikasi ilmiahnya: Kingdom: Animalia, Filum: Chordata, Kelas: Actinoperygii, Ordo, Siluriformes, Famili: Clariidae, Genus: Clarias (Scopoli, 1777).

 

Ciri-ciri Fisik

Ikan lele atau catfish sangat mudah dikenali dari ciri-ciri fisiknya antara lain memiliki kumis (4 pasang sungut/barbels) yang panjang di sekitar mulutnya, tubuh pipih memanjang, licin, serta sirip ekor kecil seperti kipas. Sepasang patil terdapat di sebelah depan sirip dada yang berfungsi sebagai senjata sekaligus sebagai alat melompat dari kolam dan berjalan di atas tanah. Habitat alami ikan lele adalah di sungai dengan arus air perlahan, rawa, telaga, waduk, dan sawah yang tergenang air. Ikan lele bahkan dapat hidup di tempat-tempat yang berlumpur dan air tercemar misalnya di selokan pembuangan karena ikan lele memiliki alat pernapasan tambahan berupa membran berlipat-lipat yang banyak kapiler darah pada insang yang dapat mengikat oksigen dalam jumlah yang lebih banyak dan lebih lama.

 

Jenis Ikan Lele yang Dibudidayakan untuk Konsumsi

Ada banyak jenis ikan lele di dunia ini. Tetapi, di Indonesia paling tidak ada 4 jenis ikan lele yang dibudidayakan.

1. Lele Lokal

Lele lokal (Clarias Batrachus) merupakan jenis ikan lele yang sudah dikenal luas oleh penduduk Indonesia. Lele lokal pertumbuhannya cukup lambat bila dibandingkan dengan lele jenis lain seperti lele dumbo, lele sangkuriang, dan lele phyton. Lele lokal yang berumur 1 tahun, besarnya masih kalah dengan lele dumbo yang berumur 2 bulan.Lele lokal memiliki konversi pakan atau FCR (Feed Convertion Ratio) yang tinggi. FCR merupakan ukuran berapa banyak pakan yang dibutuhkan untuk menghasilkan 1 kg berat hidup lele dalam satu periode/siklus budidaya. Lele lokal yang pertumbuhannya lambat, pastinya FCR akan lebih tinggi daripada lele jenis yang lain.

Terdapat 3 jenis lele lokal yang ada di Indonesia yaitu lele hitam, lele putih/belang putih, dan lele merah. Di antara ketiga jenis lele lokal tersebut, lele hitam yang banyak dibudidayakan untuk konsumsi, sedangkan lele putih dan lele merah banyak dibudidayakan sebagai ikan hias.

Lele lokal memiliki patil yang tajam dan berbisa. Apabila menyengat, bisa yang terdapat patil bisa membunuh mangsanya. Bagi manusia, bisa pada patil biasanya hanya membuat bengkak.

Lele lokal memiliki kebiasaan membuat lubang di tanah. Jadi, untuk pemeliharaan ikan lele lokal biasanya kolam diberi terpal atau dibuat dinding agar ikan lele tidak membuat lubang. Selain itu, lele lokal gerakannya terlihat biasa dan tidak terlalu agresif.

 

2. Lele Dumbo

Menurut asal usulnya, ikan lele dumbo pertama kali didatangkan dari Taiwan pada tahun 1985. Menurut keterangan eksportirnya, lele dumbo merupakan hasil perkawinan antara ikan lele asal Taiwan Clarias fuscus dengan ikan lele asal Afrika Clarias mosambicus. Keterangan lain menyebutkan bahwa lele dumbo lebih mirip dengan Clarias gariepinus yang hidup di perairan Kenya, Afrika.

Daripada lele lokal, peternak lele biasanya lebih memilih lele dumbo karena pertumbuhannya lebih cepat. Lele dumbo berumur 2 bulan ukuran tubuhnya bisa dua kali lipat lele lokal berumur 1 tahun.

Ikan lele dumbo kulitnya berwarna hitam kehijauan. Ketika stress atau terkejut, warna kulitnya akan berubah menjadi bercak-bercak hitam putih kemudian berangsur-angsur kembali ke warna normalnya.

Lele dumbo memiliki patil, tetapi tidak beracun. Lele dumbo bersitaf lebih agresif disbanding dengan lele lokal. Lele dumbo tidak memiliki kebiasaan membuat lubang di tanah sehingga cocok dipelihara di kolam tanah.

Walaupun lele dumbo pertumbuhannya lebih cepat dibanding lele lokal, jika dilihat dari segi kualitas daging lele dumbo memiliki daging yang lebih lembek. Oleh karena itu, banyak orang yang menilai daging ikan lele lokal lebih enak daripada daging ikan lele dumbo.

 

3. Lele Sangkuriang

Ikan lele Sangkuriang resmi dilepas oleh DepartemenKelautan dan Perikanan pada tahun 2004. Penelitian ikan lele sangkuriang dilakukan oleh Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar (BBPAT) Sukabumi sejak 2002. Penelitian ini berawal dari kekhawatiran para peternak dengan menurunnya kualitas lele dumbo yang beredar di masyarakat. Penurunan disebabkan oleh kesalahan dalam menghasilkan benih dan penyilangan yang terjadi secara terus menerus. Hingga akhirnya diupayakan untuk mengembalikan sifat-sifat unggulnya dengan cara persilangan balik (back cross). Ikan lele sangkuriang dihasilkan dari indukan betina lele dumbo generasi ke-2 atau F2 dan lele dumbo jantan F6. Induk betina merupakan koleksi BBPAT, keturunan F2 dari lele dumbo yang pertama kali didatangkan pada tahun 1985. Sedangkan indukan jantan merupakan keturunan F6 dari keturunan induk betina F2 itu. Penamaan Sangkuriang diambil dari cerita rakyat Jawa Barat tentang seorang anak yang bernama Sangkuriang yang akan mengawini ibunya sendiri. Sama seperti yang dilakukan BBPAT yang mengawinkan lele jantan F6 dengan induknya sendiri lele betina F2.

Dari hasil perkawinan ini ternyata didapatkan sifat-sifat unggul seperti kemampuan bertelur hingga 40.000-60.000 butir per sekali pemijahan. Jauh berbeda dengan kemampuan bertelur lele lokal yang berkisar 1.000-4.000 butir. Lele Sangkuriang juga lebih tahan terhadap penyakit, dapat dipelihara di air minim, dan kualitas daging yang lebih baik. Kecepatan petumbuhan dan FCR ikan lele sangkuriang juga baik. FCR ikan lele sangkuriang yang dipelihara dengan baik bisa mencapai 1:1 bahkan bisa kurang.

Hanya saja kelemahannya, peternak tidak bisa membenihkan lele Sangkuriang dari induk lele Sangkuriang. Apabila ikan lele Sangkuriang dibenihkan lagi, kualitasnya akan turun. Jadi pembenihan lele Sangkuriang harus dilakukan dengan persilangan balik.

 

4. Lele Phyton

Sesuai dengan namanya, lele phyton memiliki bentuk kepala seperti ular phyton. Ikan lele phyton ditemukan oleh para peternak lele di Kabupaten Pandeglang, Banten, pada tahun 2004. Sayangnya tidak diketahui apa spesies dari indukannya dan dari generasi keberapa indukan ikan lele lokalnya berasal. Menurut para penemunya, indukan didapat dari lele lokal yang banyak dibudidayakan masyarakat setempat secara turun temurun. Tetapi, berdasarkan beberapa literatur, lele phyton berasal dari induk betina lele eks Thailand F2 dengan induk jantan lele dumbo F6.

Ikan lele phyton mempunyai ketahanan terhadap cuaca dingin, tingkat kelangsungan hidup (survival rate) lebih dari 90%. FCR lele phyton yag dipelihara dengan baik bisa mencapai 1:1 yang artinya satu kilogram pakan menjadi satu kilogram daging dihitung mulai benih ditebar sampai panen dengan siklus pemeliharaan selama 50 hari atau 2 bulan..

Pada awalnya proyek Ikan lele phyton ini dilakukan untuk menjawab keluhan para peternak lele di Desa Banyumundu, Kabupaten Pandeglang. Mereka sering mengalami kerugian karena tingkat mortalitas yang tinggi dari benih lele yang dibeli dipasaran, seperti lele dumbo. Benih lele tersebut rupanya tidak cocok dibudidayakan di Desa Banyumundu yang beriklim dingin, pada malam hari berkisar 17 derajat Celcius. Dengan metode try and error selama lebih dari 2 tahun akhirnya mereka menemukan varietas lele yang kemudian dinamakan ikan lele phyton. Kualitas lele phyton ini juga diakui oleh Dinas Perikanan Budidaya Provinsi Banten.

Lele phyton memiliki gerakan lebih lincah daripada lele dumbo. Selain itu, daging ikan lele phytonrtidak lembek dan lebih gurih. Dari segi rasa, lele phyton lebih mendekati lele lokal.

 

Sifat

Ikan lele bersifat nocturnal yaitu aktif bergerak mencari makan di malam hari. Pada siang hari ikan lele lebih suka bersembunyi atau berlindung di balik benda-benda di dasar perairan.

Di alam, lele memijah atau kawin pada musim penghujan. Ikan lele berkembang biak dengan telur, dan telurnya dibuahi secara eksternal (di luar tubuh induk). Musim perkembangbiakan lele secara massal terjadi di awal musim penghujan. Pada beberapa kasus ikan lele masih berkembang biak sepanjang musim hujan. Ikan lele memijah didorong oleh faktor kelimpahan air dan kualitas air, dimana pada musim hujan air cukup banyak dan kualitasnya lebih baik. Lele juga memijah ketika ada rangasangan berupa bau tanah. Tanah yang terjemur pada musim sebelumnya yang kemudian terendam air akan mengeluarkan bau khas yang akan merangsang ikan lele memijah. Kondisi ini biasanya terjadi saat hujan tiba.

Ikan lele termasuk pada jenis ikan karnivora (pemakan daging). Di alam liar, ikan lelememangsa menyantap cacing, kutu, larva serangga, dan siput air.  Dalam keadaan yang mendesak, lele dapat menjadi kanibal atau makan lele yang lain. Lele yang lebih besar akan memangsa lele yang lebih kecil.

 


Info produk:

AQUA BOOSTER merupakan suplemen (supplement) alami khusus ikan dan udang yang menyediakan natural vitamin, chelated mineral, antioksidan (antioxidant), asam organik (organic acids), enzim (plant based enzymes), nukleotida (nucleotides), mannan oligosaccharide (MOS), beta glucan, plant sterols, serta nutrisi-nutrisi penting lainnya yang dibutuhkan ikan dan udang untuk mengoptimalkan pertumbuhan, produksi, reproduksi, serta kesehatan ikan dan udang.

 

AQUA BOOSTER sangat disarankan untuk budidaya:

  • Perikanan air tawar: ikan mas, ikan nila, ikan gurami, ikan lele, ikan patin, ikan bawal, udang galah, dll
  • Perikanan air payau: ikan bandeng, ikan kakap putih, udang windu, udang vannamei, dll
  • Perikanan air laut / marikultur: ikan kerapu macan, ikan kerapu sunu, ikan kerapu bebek, ikan napoleon, udang lobster, dll

Manfaat

  • Mempercepat pertumbuhan ikan/udang muda
  • Meningkatkan daya cerna dan efisiensi penggunaan pakan
  • Meningkatkan daya tahan tehadap penyakit dan stres lingkungan
  • Meningkatkan performa reproduksi induk jantan dan betina
  • Mengurangi angka kematian dan
  • Menekan/mengurangi bau kolam

Katalog produk peternakan dan info selengkapnya klik link berikut AQUA BOOSTER – Suplemen Ikan dan Udang

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *